Hanya Ini Lembaga Survei Yang Bisa Dipercaya di Indonesia

Hanya Ini Lembaga Survei Yang Bisa Dipercaya di Indonesia -- Persaingan Pilpres 2014, tidak hanya diwarnai kompetisi antara tim sukses, tapi juga perang survei. Itu lantaran lembaga survei seolah terbelah menjadi dua. 

Lembaga survei, seperti Puskaptis, JSI, IRC, dan LSN mengunggulkan due Prabowo-Hatta. Sebaliknya, Charta Politika, Cyrus Network, CSIS, Polltracking, LSI, IPI, SMRC, bahkan Litbang Kompas memprediksi pasangan Jokowi-JK yang menang.

Pengamat Universitas Diponegoro Ari Junaedi menyatakan, fenomena itu merupakan hal biasa dalam kompetisi. Hanya saja, kata Ari, pada akhirnya waktu juga yang membuktikan, siapa yang prediksinya kredibel dan mana yang abal-abal berdasarkan pesanan.

"Akhirnya publik pun terbuka matanya, mana lembaga survei yang kredibel dan tak kredibel," kata Ari kepada wartawan, Senin (21/7).

Republika/Tahta Aidilla 
Direktur Charta Politika Yunarto Wijaya (tengah). 

Menurut dia, keberadaan Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi) layak diapresiasi. Pasalnya, Persepi berani melakukan audit dan menyatakan lembaga survei yang memenangkan Jokowi-JK dalam hitung cepatnya, bekerja sesuai kaidah ilmiah. Justru, kata dia, lembaga survei yang memenangkan Prabowo-Hatta, enggan diaudit. Hal itu semakin menunjukkan kecurigaan yang membuat publik curiga. 

Menjelang berakhirnya real count KPU pada Selasa (22/7), di mana Jokowi-JK sudah menunjukkan keunggulan raihan suara yang secara persentase tak jauh beda dengan prediksi Charta Politika maupun hasil quick count beberapa lembaga survei. "Fakta ini membuktikan, siapa yang asal-asalan dan kredibel," kata dia.

Karena itu, kata dia, masyarakat akhirnya tahu lembaga survei mana yang menggadaikan kaidah ilmiah demi sebuah kepentingan politik atau iming-iming fulus dan lembaga yang masih menjunjung profesionalitas dalam melakukan survei. "Jadi, mana survei yang dikerjakan ala kadarnya, akhirnya diketahui sudah," katanya.

Seperti diketahui, Direktur Charta Politika Yunarto Wijaya, melansir survei terbarunya sehari sebelum pencoblosan. Dalam sigi terbarunya, diprediksi pasangan Jokowi-JK bakal menjadi pemenang Pilpres 2014, dengan keunggulan antara empat hingga delapan persen.

Dalam hasil surveinya, terungkap elektabilitas Jokowi-JK mencapai 49,2 persen. Sementara, Prabowo-Hatta hanya 45,1 persen. Sisanya 5,7 persen belum menentukan pilihan atau menjawab tidak tahu. Maka, jika prediksi Jokowi unggul dengan selisih empat persen, hasil akhir kemungkinan pemenang mendapat suara 53 persen.
Sumber : Republika.co.id 

READ MORE - Hanya Ini Lembaga Survei Yang Bisa Dipercaya di Indonesia

Ingatlah Enam Janji Jokowi Kalau Terpilih

Ingatlah Enam Janji Jokowi Kalau Terpilih -- Juru bicara Timkamnas pasangan Jokowi-JK, Hasto Kristianto, di Jakarta, Sabtu (19/7), mengatakan bahwa penghitungan suara yang dilakukan lembaga-lembaga survei kredibel melalui hitung cepat, rekapitasi suara riil yang dilakukan DPP PDI Perjuangan maupun relawan, serta rekapitasi suara secara berjenjang yang dilakukan KPU hingga ke tingkat kabupaten dan kota di seluruh Indonesia, semuanya telah memberi arah kemenangan kepada pasangan Jokowi-JK. 

Timkamnas Jokowi-JK memberikan kepercayaan kepada KPU untuk melakukan rekapitulasi suara nasional secara jujur dan adil serta kepada Bawaslu untuk dapat melakukan pengawasan secara menyeluruh.

"Kami mempercayakan kepada penyelenggara Pemilu baik KPU maupun Bawaslu untuk benar-benar mengedepankan transparansi dan akuntabilitas dalam rekapitulasi suara. Kami juga memberikan kepercayaan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan betul-betul mengawal proses transisi kepemimpinan ini agar berjalan secara aman dan damai," katanya. 

Antara/Teresia May  - Presiden ke-3 BJ Habibie (kiri) di dampingi Joko Widodo (kanan) dan Juru Bicara Capres Dan Cawapres Jokowi-JK, Anis Baswedan di Kediaman BJ Habibie, Patra Kuningan, Jakarta, Jumat (18/7). 


Berikut ini sejumlah visi dan misi yang dipaparkan Jokowi:

Pertama, pendidikan. di sektor pendidikan, Jokowi menekankan pada revolusi mental, yang dinilainya akan efektif bila dimulai sejak sedini mungkin dari jenjang sekolah, terutama pendidikan dasar. 

Menurut Jokowi, siswa sekolah dasar (SD) sepatutnya mendapatkan materi pendidikan karakter, pendidikan budi pekerti, dan pendidikan etika sebesar 80 persen, sedangkan ilmu pengetahuan cukup 20 persen. 

"Saat ini anak-anak SD sudah dijejali dengan matematika, IPA, IPS, dan bahasa Inggris, sehingga pendidikan etika, perilaku, dan moralitas, tidak disiapkan pada posisi dasar," kata Jokowi. 

Kemudian secara berjejang kata dia porsi ilmu pengetahuan di tingkatkan pada SMP menjadi 40 persen, sedangkan pendidikan karakter dan budi pekerti menjadi 60 persen. Pada tingkat SMA, pendidikan ilmu pengetahuan ditingkatkan lagi menjadi 80 persen serta pendidikan karakter dan budi pekerti diturunkan menjadi 20 persen. 

Kedua, pertanian. Di sektor pertanian, Jokowi menilai Indonesia masih membutuhkan banyak lahan pertanian untuk mencukupi kebutuhan pangan rakyat Indonesia. Untuk membangun lahan pertahuan dibangun waduk atau bendungan dan sistem irigasi pada lahan pertanian. 

Ketiga, kelautan. Di bidang kelautan, Jokowi menyoroti nelayan lokal Indonesia kalah bersaing dengan nelayan asing karena teknologi penangkapan ikannya tertinggal. Jokowi berjanji, jika terpilih sebagai presiden akan menyediakan kapal-kapal modern untuk para nelayan yang disertai dengan pelatihan bagi para nelayan. 

Keempat, energi. Di bidang energi, Jokowi menyoroti besarnya subsidi BBM dan subsidi listrik. Hal ini dapat diminimalisir dengan mengalihkan sumber energi dari BBM ke gas, karena Indonesia memiliki depsot gas sehingga anggarannya jadi lebih murah. 

Kelima, infrastruktur. Di bidang infrastruktur, Jokowi menyoroti masih kurangnya pengembangan infrastruktur di laut, pengembangan bandara, maupun penambahan jalur kereta api. 

Untuk infrastruktur laut, ia menilai, jika dapat dimaksimalkan maka ke depannya tidak ada lagi ketimpangan harga antara daerah yang satu dengan yang lain. Dia mengistilahkan konsep pembagunan infrastruktur laut yang akan dengan istilah tol laut. 

Keenam, administrasi birokrasi. Jokowi menjelaskan, jika terpilih ia akan segera menerapkan sistem elektronik dan jalur online dalam hal pengadaan barang dan jasa di seluruh institusi pemerintah, termasuk dalam hal pengawasannya. 

Sistem tersebut, kata dia, sudah mulai diterapkannya di lingkungan pemerintah provinsi DKI Jakarta.
Sumber : republika.co.id

READ MORE - Ingatlah Enam Janji Jokowi Kalau Terpilih

Sikap Aneh Koalisi Merah Putih

Sikap Aneh Koalisi Merah Putih - Betapa memprihatinkan cara kubu Prabowo Subianto-Hatta Rajasa menyikapi hasil sementara pemilihan presiden 2014. Mereka tak segera menyadari kekalahannya. Belakangan, Prabowo malah menginginkan penundaan rekapitulasi suara.

Sikap itu aneh karena sebelumnya Koalisi Merah Putih, yang mengusung pasangan Prabowo-Hatta, justru mengklaim kemenangan. Mereka juga mengkritik kubu Joko Widodo-Jusuf Kalla yang sempat bergembira setelah melihat perolehan suara lewat hitung cepat. Saat itu kubu Prabowo meminta semua pihak menunggu penghitungan suara oleh Komisi Pemilihan Umum.

Kubu Prabowo juga sempat ngotot akan mengerahkan pendukung ke gedung KPU. Alasannya, demi mengamankan proses rekapitulasi suara. Tapi, belakangan, manuver tim Koalisi Merah Putih berubah lagi. Mereka menuntut KPU menunda rekapitulasi dengan dalih terjadi kecurangan. Kubu Prabowo pun berancang-ancang memperkarakan hasil pemilihan ke Mahkamah Konstitusi.

Tim Merah Putih, yang berisi tokoh-tokoh dari partai yang cukup berpengalaman, seperti Golkar, Partai Amanat Nasional, dan Partai Keadilan Sejahtera, semestinya bersikap sportif. Kalau tidak percaya akan hasil hitung cepat, mereka bisa menghitung sendiri hasil pemilihan. Dengan begitu, mereka segera mendapatkan gambaran perolehan suara calon yang didukungnya.

Sejak awal, berbagai hasil hitung cepat yang kredibel jelas memenangkan Joko Widodo alias Jokowi dengan selisih 5 persen lebih. Hasil hitung riil dengan menggunakan data pindai formulir C1 bahkan menunjukkan selisihnya semakin lebar. Selisih itu terkesan kecil, tapi sebetulnya amat besar. Lima persen dari jumlah pemilih sekitar 130 juta adalah 6,5 juta. Jumlah ini setara dengan jumlah pemilih dari dua atau tiga provinsi di luar Jawa.

Kalaupun tim Prabowo menemukan dugaan kecurangan, seharusnya hal itu disampaikan sejak awal. Dengan begitu, pemungutan suara ulang bisa segera dilakukan tanpa menghambat tahapan pemilu. KPU jelas tak mungkin menunda rekapitulasi suara di tingkat nasional karena bertentangan dengan undang-undang. Langkah ini juga akan menimbulkan ketidakpastian politik.

Upaya menggugat hasil pemilihan ke MK mungkin perlu dihargai kendati akan sia-sia. Langkah ini juga pernah dilakukan pasangan Megawati-Prabowo pada 2009 dan tak berhasil. Bagaimanapun, tak gampang hakim konstitusi mengabulkan permohonan penggugat, apalagi mengubah hasil pemilihan presiden yang disahkan oleh KPU. Hakim konstitusi hanya akan mempertimbangkan kecurangan yang benar-benar masif dan mempengaruhi hasil pemilihan.

Pemilu bukan hanya soal menang atau kalah, melainkan juga tentang sportivitas. Mekanisme demokrasi ini akan rusak bila calon presiden tak menghargai aturan main. Manuver yang hanya menunda kekalahan semestinya tak dilakukan begitu pemilu selesai. Rakyat akan lega bila yang kalah segera memberikan ucapan selamat kepada sang pemenang.
Sumber : tempo.co

READ MORE - Sikap Aneh Koalisi Merah Putih

Hormati Keputusan KPU ... !!!


Hormati Keputusan KPU ... !!! - Indonesia merupakan negara yang menganut sistem demokrasi dan telah melaksanakan pemilu secara langsung yang dipilih oleh rakyat. 

Dalam proses Pilpres 2014 ini terdapat dua pasang calon yang sedang bertanding, pasangan nomor urut 1 Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan pasangan nomor urut 2 Joko Widodo-Jusuf Kalla. Semuanya merupakan kader terbaik bangsa ini, dan sama-sama memiliki tujuan untuk memajukan bangsa Indonesia. 

Oleh karenany,a kita sebagai elemen pemuda yang tergabung dalam kelompok sosial berkewajiban untuk menjaga dan saling mengingatkan satu sama lain agar tetap menghormati keputusan penyelenggara pemilu dalam hal ini adalah KPU. Harapan  kami sebagai pemuda ini agar semua pendukung pasangan calon presiden agar tetap menghargai keputusan KPU nanti. 

Isu penyerangan dan pengerusakan kedaulatan bangsa sudah dimunculkan oleh pihak-pihak yang berusaha merusak dan mengotori jalanya demokrasi di Indonesia.

Karena sejatinya kita adalah saudara, mari sama-sama mengedepankan kemajuan Indonesia. Kedua calon presiden yang tampil sama-sama mempunyai tujuan memperbaiki Indonesia agar lebih berkembang dan menyejahterakat rakyat Indonesia seperti yang diutarakan oleh Plato.

Plato menolak kepentingan individu dan personal yang dikedepankan. Menurutnya, bahwa tujuan manusia hidup itu untuk mencapai kesempurnaan yang diwujudkan dalam keselarasan dan keadilan. Sosok ini juga menjelaskan bahwa terdapat analogi antara jiwa dan negara. 

Pada jiwa itu terdapat unsur keinginan seperti lapar, dahaga dan cinta. Selain itu, pada manusia juga terdapat unsur logos (akal/rasio) yang digunakan untuk belajar mengetahui semua hal, dan itu juga mewujudkan cinta dari manusia. Pemikiran Plato lebih difokuskan pada kehidupan kenegaraan yang baik demi mencapai cita-cita keadilan. 

Mengacu pada pemikiran Plato bisa diambil kesimpulan bahwa kita sebagai masyarakat Indonesia harus saling menjaga antar sesama  masyarakat Indonesia. Karena sama-sama memiliki tujuan yang sama yaitu ingin mencapai kesejahteraan masyarakat Indonesia. Oleh sebab itu mari kita semua menjaga bangsa negara kita, dan kita bangun demokrasi di bangsa ini secara dewasa dan saling menghargai antar sesama.

Khusus untuk para pemuda, dalam konteks Pilpres kali ini hendaknya pemuda-pemudi Indonesia menjadi kelompok yang lebih menyejukkan suasana dalam pemilu 2014 ini. 
Gejala yang telah muncul seperti : persoalan media, netralitas aparatur keamanan negara dan gejala sosial yang lain, seyogyanya diantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, apakah mengacu pada yang namanya chaos?. Tentu tidak, perlu ditegaskan. Pilpres ini bukan agenda perang, namun praktik demokrasi yang musti ada dalam lima tahun. Sebagai sarana agregasi politik, sirkulasi kepemimpinan dan pendidikan politik di masyarakat.

Penting kiranya agar apapun hasil Pilpres 2014, siapapun yang menang tentu jangan terlalu jumawa dan euforia berlebihan, yang kalah pun jangan terlalu kecewa. Yang perlu dielaborasi ke depan, Indonesia menjadi negara yang lebih baik, maju dan sejahtera di masa mendatang.
Sumber : rmol.co
 

Azhar Kahfi - 
Ketua Bidang PTKP PB HMI - Mahasiswa Program Pascasarjana Magister Ilmu Hukum, Universitas Indonesia  - Deklarator Gagas Nusantara (Gantara)

READ MORE - Hormati Keputusan KPU ... !!!

Ramadhan Seharusnya Melahirkan Pemilih Cerdas

Ramadhan Seharusnya Melahirkan Pemilih CerdasHadirnya bulan Ramadhan pada dasarnya memberikan arah dan panduan yang jelas sosok ideal yang layak dipilih menjadi presiden untuk 5 tahun ke depan. Tak hanya bagi yang muslim, bagi umat yang lain, bulan puasa pasti memberikan nuansa yang berbeda, dan sedikit banyak juga mempermudah untuk memilih. Salah satunya seperti yang disampaikan Tahta Keuskupan Vatikan di Roma, Italia. Bahwa Ramadhan tahun 2014 ini, menurut Paus Franciskus, puasa adalah menjaga diri, orang-orang yang mampu menahan diri dari kebutuhan duniawi adalah orang-orang yang bergelimang berkah dari Yang Maha (republika.co.id). 

Paling tidak, pernyataan Paus mengisyaratkan bila calon pemimpin di negeri ini seorang muslim, maka yang layak dicoblos adalah sosok yang memiliki kepribadian bisa menjaga dirinya sendiri, tentu menjaga diri dari perbuatan yang dilarang/tercela, seperti: menghina, mencaci, black/negative campaign, dan lain-lain. 

Disamping itu, dia juga mampu menahan diri kebutuhan duniawi (misal: berambisi meraih kepemimpinan tertinggi demi meraup kekayaan/harta benda untuk kepentingan pribadi/golongan/partainya di atas kepentingan seluruh rakyatnya). Ternyata, apa yang disampaikan Paus esensinya sama seperti yang disampaikan para penceramah tentang hikmah bulan Ramadhan.

Lebih dalam lagi, hikmah hadirnya bulan Ramadhan tercantum dalam beberapa ayat Alquran, dan bila ayat ayat ini dibaca serta dipahami benar-benar maka dengan mudah umat Islam akan memilih calon presiden (capres) dengan cerdas. Seperti dalam Al Qur’an surat Al Baqarah (2) ayat 185, yang artinya “(beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” 

Pada umumnya, semua permasalahan yang dihadapi manusia, semua telah ada petunjuk penyelesaiannya dalam kitab suci ini. Al Qur’an memberikan penjelasan-penjelasan tentang petunjuk yang diinginkan dan memberikan batasan yang terang benderang mana yang benar dan mana yang salah. Termasuk dalam urusan memilih seorang pemimpin (presiden). Ramadhan telah mendidik semua orang untuk menjadi pemilih yang cerdas, yaitu dengan memilih tidak berdasarkan hawa nafsu/ikatan emosional (fanatis partai/golongan/suku/dan lain-lain) tetapi memilih berdasarkan petunjuk Kitab Suci. Yang lebih cinta dengan Kitab Suci sekaligus mau mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya dan kepemimpinannya kelak, maka beliau lah yang layak untuk dipilih. Oleh karena itu, bila masih bingung memilih 1 atau 2, maka pilihlah pemimpin yang lebih banyak berpedoman pada petunjuk-petunjuk dalam Kitab Suci, niscaya ketika beliau sudah jadi Presiden akan mampu menjadi petunjuk bagi rakyatnya sekaligus mampu menjadi pembeda mana yang haq dan yang bathil. 

Begitu juga bila memperhatikan pesan Rasulullah Saw kepada umatnya dalam setiap bulan Ramadhan. Rasul Saw bersabda, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Allah berfirman,’Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Puasa tersebut adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai. Apabila salah seorang dari kalian berpuasa maka janganlah berkata kotor, jangan pula berteriak-teriak. Jika ada seseorang yang mencaci dan mengajak berkelahi maka katakanlah,’Saya sedang berpuasa’. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah pada hari kiamat daripada bau misk/kasturi. Dan bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, ketika berbuka mereka bergembira dengan bukanya dan ketika bertemu Allah mereka bergembira karena puasanya.“ (HR. Bukhari dan Muslim)

Lagi-lagi umat Islam diberikan kemudahan dalam setiap permasalahan yang dihadapinya. Sesuai dengan isi pesan Rasulullah Saw di atas, maka dalam urusan memilih capres yang baik, pilihlah capres yang benar-benar berpuasa! Artinya kualitas puasanya tidak hanya sekedar menahan haus dan lapar serta tidak berhubungan badan dengan istri di siang hari, tetapi juga menahan dari perbuatan dan perkataan yang tercela di kacamata hukum agama maupun hukum Negara. Capres yang benar-benar berpuasa, ucapannya pasti terjaga dari berkata-kata kotor (termasuk di dalamnya black/negative campaign) terhadap lawan-lawan politiknya. Bila lawannya mencaci maki/mengajak berkelahi, maka dia akan berkata saya sedang berpuasa dan tidak akan membalasnya. Maka dari itu, (sekali lagi) Ramadhan telah telah mendidik kita menjadi pemilih yang cerdas, yaitu dengan melihat dan menyaksikan di media cetak/elektronik, peristiwa demi peristiwa yang dilakukan oleh semua pasangan capres-cawapres selama ini, mana yang menjalankan ibadah puasa dengan benar mana yang hanya sekedar puasa namun perilakunya masih tidak sanggup untuk menahan dari perkataan/perbuatan tercela. 

Kesimpulannya, untuk menjadi pemilih yang cerdas itu mudah. Jadikan panduan/pedoman utama dan pertama dalam memilih yaitu dengan berdasarkan tuntunan agama (dan keyakinannya) masing-masing. Berhati-hatilah dalam memilih, karena ada pepatah bagai memilih kucing dalam karung. Artinya hanya sekedar memilih tanpa sebab/alasan, tanpa tahu menahu profil kehidupan orang yang dipilih. Janganlah juga memilih karena melihat popularitas/elektabilitas yang pertontonkan media semata, dam jangan memilih karena faktor kepentingan sesaat. Pemilih cerdas, sebelum memilih, terlebih dulu akan mencari informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber yang berimbang (tidak berat sebelah) agar benar-benar mengetahui luar dalam profil lengkap capresnya. Hindari perpecahan silaturrahim dengan sesama pemilih, apalagi sesama keluarga/saudara/teman, hanya gara-gara fanatisme sesaat dengan capres yang akan dipilih. Ayo kita sukseskan pilpres kali ini dengan memberikan informasi-informasi yang berdasarkan fakta bukan fitnah, berdasarkan agama bukan fanatik buta, berdasarkan aturan pemerintah bukan aturan golongan/partai/pribadi/tim suksesnya. 

Alhasil, semoga Pilpres yang akan dihelat 3 hari lagi (9 April) mendapatkan presiden yang istimewa bagi bangsa dan negara. Karena memang pesta demokrasi yang bernama PILPRES ini telah berada di saat yang luar biasa, yaitu di bulan suci, bulan mulia, dan bulan yang penuh berkah. Bulan dimana pasangan capres-cawapresnya berpuasa dan mayoritas pemilihnya pun sama. Logikanya, pemimpin yang terpilih nantinya adalah pemimpin yang juga istimewa dan penuh berkah. Semoga! Dan selamat menjadi pemilih yang cerdas, tentunya yang puasanya berkualitas.
Sumber : suara-islam.com

READ MORE - Ramadhan Seharusnya Melahirkan Pemilih Cerdas

Kali ini Pemerintahan SBY Bertindak Dengan Tepat

Kali ini Pemerintahan SBY Bertindak Dengan Tepat - Kalah Jangan Ngamuk, Menang Jangan Arogan - Sebagai pemimpin negara dan pemerintahan SBY bertindak dengan tepat. Presiden SBY sudah mengingatkan semua fihak teramsuk TNI dan Polri, agar menjaga jalannya pemilu presiden, berjalan aman dan tertib. 

Maka, dalam kesempatan yang sama Presiden SBY mengingatkan kepada semua pihak khususnya kandidat capres-cawapres yang berkompetisi di Pilpres 9 Juli nanti. Presiden berpesan dua kandidat capres-cawapres harus menyiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi, bahkan kemungkinan terburuk yakni kalah di pilpres nanti.

"Yang menang tidak perlaku arogan, yang kalah tidak perlu ngamuk," ujar SBY yang dikuti dari wawancaranya di Youtube pribadinya, Minggu (6/7/2014).

http://www.voa-islam.com/photos3/cinta-dunia.jpg

Presiden mengatakan, pilpres merupakan sebuah bagian dari demokrasi. Untuk itu semua pihak harus tetap bisa menjaga situasi agar tetap aman dan kondusif pasca pilpres. Sehingga jika nantinya hasil pilpres tidak sesuai dengan harapan salah satu kandidat, maka tidak perlu membuat tindakan yang mencederai nilai-nilai demokrasi.

Selain itu kedua belah pihak yakni capres Prabowo dan Jokowi harus tetap menjalin hubungan baik pasca pilpres.

"Ingat setiap lima tahun akan ada pemilihan presiden lagi, silahkan berkompetisi lagi, peluang selalu terbuka dan presiden terpilih itu sudah ditunggu rakyat untuk bekerja," ungkapnya.

Presiden SBY mengatakan, presiden terpilih nanti harus mulai merencanakan agenda kerja karena tugas-tugas negara sudah siap menunggu.

"Sudah selesai pencitraan, sudah selesai janji-janji, sudah selesai kampanye, bekerja dan bekerja secara keras-kerasnya," imbuhnya.

Presiden SBY juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia atas partisipasinya di Pilpres 2004 dan 2009. Sebab rakyat Indonesia sudah membantu pemerintah untuk menciptakan situasi yang aman dan nyaman pasca pilpres kemarin.

"Mudah-mudahan rakyat kita bisa mengulangi lagi kisah baik ini pada pemilihan presiden tahun 2014 ini," tandasnya. 

Sebelumnya, tokoh Katolik Franz Magnis Suseno, mengatakan, bahwa jika Jokowi kalah akan timbul 'chaos'. Seakan tidak mau terima dengna kekalahan Jokowi. Di mana kader PDIP di Yogyakarta sudah menyegel TVOne dan melakukan aksi demo TVOne di Jakarta, karena di dianggap menghina Jokowi. Orang-orang tak dikenal juga merusak kantor DPD PKS Karawang.
Sumber : voa-islam.com

READ MORE - Kali ini Pemerintahan SBY Bertindak Dengan Tepat

Kampanye Online Semakin Marak

Kampanye Online Semakin Marak - Memasuki masa tenang pemilihan presiden, materi-materi kampanye masih marak di ruang publik. Selain sisa-sisa spanduk dan poster yang belum bersih seluruhnya, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) mendapat laporan banyaknya iklan kampanye di internet yang belum ditarik.

Anggota Bawaslu Pusat, Nelson Simanjuntak, menyatakan, para partisipan harus proaktif dalam menciptakan ketertiban di masa tenang ini. "Iklan itu kan punya dua sisi, bisa ajakan memilih pihaknya atau juga ajakan untuk tidak memilih pihak lain. Hal tersebut cukup mengganggu di masa tenang ini," Ujar Nelson, Ahad (6/7).

Menurut Nelson, masa tenang adalah saat di mana seluruh bangsa beristirahat dan merenung. "Biarkan rakyat tenang dan memutuskan pilihan yang terbaik untuk mereka," ujarnya.

Selain iklan, Nelson juga menyoroti soal aktivitas kampanye di media sosial. Menurut dia, hukum positif di Indonesia memang belum mengatur hal tersebut. "Tapi kita pakai logika umum saja. Itu cukup mengganggu dan sebaiknya dihindari," kata dia menambahkan. 

Nelson berharap, para kontestan menahan diri di masa tenang ini agar suasana kondusif. Dia berpesan, para kontestan siap menang dan siap kalah. "Siapa pun nanti presidennya, karena pasti ada pemenangnya, semua pihak harus menerima dengan lapang dada," ujar dia. 

Bawaslu Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) menyiapkan tim khusus untuk memantau kampanye di media sosial, seperti Facebook, terutama saat masa tenang pemilu presiden pada 6-8 Juli. "Termasuk saya ikut memantau karena memang tidak diperkenankan pada masa tenang untuk berkampanye, termasuk di media sosial," kata Ketua Bawaslu Kalbar Ruhermansyah.

Berdasarkan aturan, kata dia, larangan itu berupa kegiatan yang sifatnya ajakan, memengaruhi pemilih, terlebih kalau ada gambar yang sifatnya tendensius. "Juga jangan menggunakan modus tertentu seperti doa bersama yang tujuannya mengajak orang untuk memilih calon tertentu," kata dia.

Dia menjelaskan, dasar hukumnya adalah UU Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pilpres, Peraturan KPU Nomor 4 Tahun 2014 tentang Tahapan Program dan Jadwal Penyelenggaraan Pilpres, dan Peraturan KPU Nomor 16 Tahun 2014 tentang Kampanye Pilpres.

Ia mengatakan, kalau memenuhi unsur pelanggaran atau bahkan pidana pemilu, dapat ditindaklanjuti.

Dia melihat masih ada beberapa pengguna media sosial yang berkampanye. "Kami imbau untuk stop, apalagi kalau kampanye menyangkut isu suku, agama, ras, dan antargolongan," kata dia.

Ia mendapat laporan dari salah satu tim kampanye mengenai dugaan penghinaan terhadap salah satu calon presiden. "Komentar dan isinya dianggap tidak pantas, sehingga pelakunya dilaporkan," ujar Ruhermansyah.

Pakar komunikasi Universitas Diponegoro, Semarang, Triyono Lukmantoro mengatakan, merupakan hal yang wajar bila ada yang merasa jenuh dengan segala bentuk kampanye di media sosial, apalagi kampanye hitam. Triyono mengatakan, akan lebih bijak bagi pengguna media sosial yang merasa jenuh untuk melakukan "unfollow" atau "unfriend" akun-akun yang melakukan kampanye hitam terhadap kandidat tertentu peserta Pemilu Presiden 2014. Triyono mengatakan, informasi di media sosial yang isinya saling hujat atau menyebarluaskan kejelekan pihak tertentu pada akhirnya memang bisa membuat bosan. 

Apalagi, lanjut dia, informasi di media sosial kerap kali disertai tautan-tautan ke situs tertentu yang isinya lebih banyak propaganda mengenai isu tertentu yang tidak bisa ditampilkan di media mainstream. "Informasi yang menyebarluaskan visi dan misi kandidat mungkin bisa lebih diterima daripada yang isinya saling hujat, fitnah, dan menjelek-jelekkan," ujarnya. 
Sumber : republika.co.id

READ MORE - Kampanye Online Semakin Marak

← Previous Page

Arsip Media Online

Random Politik

About

Politik adalah seni dalam mengolah ilmu pengetahuan mejadi lebih menarik . Powered by Blogger.

Total Pageviews

My Ping in TotalPing.com


Alivio counter