Dilema PKS, Di Ujung Tanduk Sapi

Galau Antara Adil dan Sejahtera -  Walau dibantah berkali-kali oleh elite PKS, fenomena ‘’Faksi Keadilan’’ dan’’Faksi Sejahtera’’ di tubuh PKS, semakin terang-benderang. Sejumlah peneliti sudah memaparkannya.

Julie C Hwang dan Quinn Mecham, dalam makalahnya “Institutional Incentives and The Electoral Success of Islamist Parties: Explaining the Divergent Trajectories of the PKS in Indonesia and the AKP in Tukey” (2010), menyebut dalam tubuh PKS terdapat kelompok pragmatis (Hilmi Aminuddin, Anis Matta, Fahri Hamzah), puritan (Mutammimul Ula dan Abdi Sumaiti), dan kelompok mayoritas tengah. Kelompok mayoritas mendukung gagasan pragmatis, namun juga membenarkan hal- hal yang menjadi perhatian dan keprihatian kelompok puritan.

Ketegangan di antara kelompok pragmatis dan puritan terkait dengan bagaimana gaya hidup yang layak sebagai kader PKS, seterbuka apakah PKS seharusnya, dan sejauh mana PKS dapat memoderasi ideologi dan strateginya dalam upaya untuk menjadi partai pemenang? Tarik-menarik yang terjadi secara internal tersebut membuat PKS gamang dalam mendefinisikan identitasnya.


Dalam diskusi buku “Dilema PKS: Antara Suara dan Syariah” di Jakarta, Pengurus Partai Demokrat Ulil Abshar Abdalla, menyatakan bahwa perubahan PKS dari partai islamis-ideologis menjadi partai pragmatis-terbuka adalah kerugian besar bagi demokrasi Indonesia.

Demokrasi yang sehat, menurut Ulil adalah demokrasi yang didalamnya ada diskusi berimbang antara berbagai partai, baik partai sekuler maupun partai yang diinspirasi oleh agama.

Kondisi partai di Indonesia akhir-akhir ini sedikit tidak sehat dengan semakin banyaknya partai yang secara ideologis bergerak ke tengah. Dengan kata lain, partai-partai lepas dari ideologinya semakin tidak jelas apa “kelamin”-nya. Akibatnya, kebijakan yang dibuat semakin tidak jelas dan cenderung populis. Ulil menyayangkan di Indonesia tidak ada partai seperti Green Party di Eropa yang rela tidak menjadi partai besar, tetapi asal bisa masuk parlemen dan merubah diskusi disana dengan arah ideologis mereka.
Menurut Burhanuddin Muhtadi, penulis buku tersebut, PKS sebagai PK awalnya bukan partai massa yang berorientasi pada banyaknya suara, namun partai kader. Saat itu, pengurus tingkat kecamatan saja banyak yang bergelar doktor. Mereka berkampanye hal yang sifatnya ideologis seperti pemberlakuan syariat Islam.

Itulah yang kemudian diubah oleh elit PKS jelang pemilu 2004. Mereka cenderung menjauhi hal-hal yang bersifat ideologis, dan lebih menonjolkan hal yang bersifat universal seperti anti korupsi dan masalah lainnya. Hasilnya, suara PKS melejit di pemilu 2004, dari 1,3 persen menjadi sekitar 7 persen.

Namun, imbuh Burhan, perubahan cara berkampanye dari ideologis menjadi pragmatis dan lebih terbuka ini menjadi awal dari dilema. Dalam tataran kebijakan partai, PKS pun menjadi lebih pragmatis dan kompromistis dengan partai-partai lain. Hal ini disaksikan sendiri oleh Burhan saat mewawancari salah satu pendiri PK, Abu Ridho (Abdi Sumaithi).

Abu Ridho sudah melihat ada dua faksi di tubuh PKS yaitu faksi ideologis dan faksi pragmatis. Ketika Burhan bertandang ke rumahnya, di TV rumah Abu Ridho ada berita PKS yang menerima laporan pertanggung jawaban gubernur DKI, Sutiyoso.

Abu Ridho terperanjat. Sebab, katanya, keputusan internal PKS sebelumnya adalah menolak. Abu Ridho yakin ada yang ‘’bermain’’. Menurut Burhan, seketika itu Abu Ridho berkata, “Audzubillahi minal siyasah wal siyasiyin.” Artinya: Aku berlindung dari politik dan politisi.

Jejak Abu Ridho kemudian diikuti sejumlah kader senior PKS, seperti Ihsan Tanjung, yang memilih ‘uzlah dan berjuang tanpa kelompok.

Menurut Burhan, terpilihnya Anis Matta sebagai Presiden PKS memberikan sinyal penting bahwa pendekatan PKS ke depan tidak akan mengalami perubahan signifikan.

Maka, Burhan menyarankan, PKS seharusnya melakukan langkah radikal memperbaiki citra dan komitmen partai dalam memberantas korupsi. Bukan malah mencari kambing hitam di padang konspirasi.
suara-islam.com
Abu Ridho terperanjat. Sebab, katanya, keputusan internal PKS sebelumnya adalah menolak. Abu Ridho yakin ada yang ‘’bermain’’. Menurut Burhan, seketika itu Abu Ridho berkata, “Audzubillahi minal siyasah wal siyasiyin.” Artinya: Aku berlindung dari politik dan politisi.

Jejak Abu Ridho kemudian diikuti sejumlah kader senior PKS, seperti Ihsan Tanjung, yang memilih ‘uzlah dan berjuang tanpa kelompok.

Menurut Burhan, terpilihnya Anis Matta sebagai Presiden PKS memberikan sinyal penting bahwa pendekatan PKS ke depan tidak akan mengalami perubahan signifikan.

Maka, Burhan menyarankan, PKS seharusnya melakukan langkah radikal memperbaiki citra dan komitmen partai dalam memberantas korupsi. Bukan malah mencari kambing hitam di padang konspirasi.
suara-islam.com
  • Beginilah Cara Menentukan Suara Sah dan Tidak Sah Pada Pemilu Legislatif 2014
    Cara Menentukan Suara Sah dan Tidak Sah Pada Pemilu Legislatif 2014 - Untuk menekan jumlah surat suara yang nantinya tidak sah Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan 14 varian…
  • Ajang Puji - Pujian Terakhir Untuk SBY Melalui Debat Konvensi Partai Demokrat
    Ajang Puji - Pujian Terakhir Untuk SBY Melalui Debat Konvensi Partai Demokrat - Debat publik peserta konvensi penjaringan calon presiden Partai Demokrat pada Ahad siang, 26 April 2014,…
  • Nasdem Akan Garap Massa Yang Kecewa, Frustasi dan Putus Asa
    Nasdem Akan Garap Massa Yang Kecewa, Frustasi dan Putus Asa - Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh yakin partainya mampu menempati tiga besar perolehan suara pada Pemilu 2014 mendatang. Pernyataan…
  • Ternyata Inilah Alasan Janda - Janda Kota Kembang Dukung Jokowi - Jusuf Kalla
    Ternyata Inilah Alasan Janda - Janda Kota Kembang Dukung Jokowi - Jusuf Kalla  - Forum Janda yang tergabung dalam Komunitas Janda Indonesia (KOJAINDO) menyatakan dukungannya terhadap pasangan…
  • Ternyata Negara Terkaya di Dunia Itu adalah Indonesia
    Negara Terkaya di Dunia Itu Ternyata adalah Indonesia. Banyak sebenarnya yang tidak tahu di manakah negara terkaya di planet bumi ini, ada yang mengatakan Amerika, ada juga yang mengatakan…
  • Misteri Nomor Urut 13 Partai Pada Pemilu 2014
    Misteri Nomor Urut 13 Partai Pada Pemilu 2014 - Ketika Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan partai politik peserta Pemilu 2014 dan nomor urutnya setahun lalu (14 Januari 2013), para elite …
  • Polemik PKS dengan Koalisi
    Polemik PKS dengan Koalisi - Polemik Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan koalisi terkait kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) akan berujung pada pendepakan PKS dari barisan koalisi. Hal itu…
  • Inilah Enam Hibauan MUI dalam Menghadapi Pilpres 2014
    Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan sejumlah pernyataan dalam menghadapi Pilpres 2014. Pernyataan yang disebut dengan "tausiyah kebangsaan" itu disampaikan dalam konferensi pers di Kantor…
  • Inilah 86 Proyek Ganjil DKI Jakarta Tahun 2013 Versi BPK
    Inilah 86 Proyek Ganjil DKI Jakarta Tahun 2013 Versi BPK - Jakarta dan Jokowi mendapat kado pahit Di hari jadinya ke-487 dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Temuan BPK atas APBD DKI…
  • Inilah Politisi - Politisi Terkaya Indonesia
    Inilah Politisi - Politisi Terkaya Indonesia - Dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia tahun 2013 yang dilansir Forbes ada empat orang yang dikenal sebagai politisi sekaligus pengusaha di…

2 komentar:

  1. analisa dangkal dan gombal. bisa anda sebutkan sapi siapa yang dikorupsi? uang departemen mana yang dikorupsi? uang yang katanya untuk suap tidak pernah diterima LHI. isa anda sebutkan berapa kerugian negara dalam kasus ini?

    BalasHapus
  2. terlalu mengada adalah analisisnya untuk ksus yang menimpa PKS

    BalasHapus